Skip to content

30 Oktober, 2014

Sore ini, gerimis kembali menyiram tanah yang belum lagi kering oleh panas mentari siang hari.  Di halaman kecil depan rumah, rumput-rumput sudah setinggi lutut, hujan membuat mereka lebih cepat tumbuh.

Doa

29 Oktober, 2014

Dingin udara
sehabis hujan

Suasana segar
aroma kenanga

Suara televisi
ditinggal tidur penontonnya

Langit
bertabur bintang-bintang

Doa-doa
harapan yang dipanjatkan

Malam
semakin larut

Tuhan
pergi jauh

Manusia
Mengenangnya

obral gas ala pemerintah SBY

13 April, 2014

obral gas ala pemerintah SBY

Obral Murah Gas SENORO

MEGA Vs SBY

13 April, 2014

MEGA Vs SBY

Membandingkan era MEGA-HH dan era SBY-JK

PUKAT RILIS PARPOL KORUP 2009-2014

23 Maret, 2014

PUKAT RILIS PARPOL KORUP 2009-2014

[VIDEO] Pukat Rilis Parpol Korup 2009-2014, Terbanyak Demokrat

Oleh: Tim Liputan 6 SCTV Rabu, 19 Maret 2014 18:16

Liputan6.com, Yogyakarta – Menjelang proses pencoblosan, rilis terkait hasil penelitian korupsi partai politik tahun 2009-2014 di tingkat nasional dalam potret media dilakukan tim Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat).

Seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, Rabu (19/3/2014), setelah meneliti pemberitaan media sepanjang tahun tersebut, tim pukat korupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan dugaan dan praktek korupsi terjadi hampir di semua parpol yang mempunyai wakil di parlemen maupun kabinet.

Angka dugaan dan proses hukum kasus korupsi terbanyak tercatat dilakukan oleh Partai Demokrat dengan jumlah 31,1 persen, disusul Partai Hanura dengan angka 23,5 persen, PDI Perjuanagan 19,14 persen, PKS 18,96 persen, Golkar 17,92 persen, PAN 17,39 persen, PKB 14,28 persen, PPP 13,16 persen dan Gerindra 3,85 persen.

Terkait temuan kasus korupsi oleh parpol tersebut, pukat korupsi UGM meminta masyarakat agar berhati-hati dalam memilih parpol termasuk tokoh atau caleg yang tidak terindikasi kasus korupsi.

Meski sejumlah partai seperti Nasdem, PBB dan PKPI tidak termasuk dalam daftar tersebut, namun pukat korupsi UGM mengingatkan hal itu bukan jaminan karena tokoh atau caleg ke-3 partai tersebut belum memiliki wakil di ke-2 lembaga tersebut. (Raden Trimutia Hatta)

- See more at: http://m.liputan6.com/indonesia-baru/read/2025186/video-pukat-rilis-parpol-korup-2009-2014-terbanyak-demokrat#sthash.YPAKPyAm.dpuf

Senja 2

1 Februari, 2014
tags:

Ini senja pertama di bulan Pebruari, setiap kali kupandangi atap senja, atap yang sama, tetapi selalu punya corak yang berbeda, selalu menarik, apalagi jika atap senja itu kupandangi dari tepi pantai. 
Senja di mana matahari selalu membenamkan dirinya kelaut, aku seperti melihat bidadari-bidadari menjelma ombak, membelai-belai telapak kakiku, menarik-narik hasratku untuk mengikuti mereka mandi.
Perahu yang menjauh, gelap yang merayapi sisa-sisa cahaya, angin yang mendorong-dorong tubuh ringkihku, tak berapa lama, atap senja berganti kerlap-kerlip bintang, dan sebuah suara manja memanggilku, merenda kembali impian-impian yang belum sempat kubawa pulang.

TARLI NUGROHO : KUDA TUNGGANG, TARIK TAMBANG DAN DORONG GELOMBANG

1 November, 2013

KUDA TUNGGANG, TARIK TAMBANG DAN DORONG GELOMBANG

Dari statusnya Bung Andi Hakim hari ini mengenai manajemen kebijakan publik a la Hatta, saya jadi diingatkan kembali pada tiga model-metaforik strategi pembangunan yang dirumuskan oleh Hidajat Nataatmadja (1932-2009). Dalam berbagai karyanya, terutama yang terbit sejak akhir dekade 1980-an, Hidajat merumuskan bahwa pada dasarnya model pembangunan itu ada tiga tipe.

Pertama, adalah model pembangunan KUDA TUNGGANG. Prinsip utama dari model ini adalah sektor mayoritas dijadikan hewan kerja bagi sektor minoritas. Inilah model pembangunan yang berlaku dalam sistem ekonomi kolonial.

Kedua, adalah model pembangunan TARIK TAMBANG. Model ini merupakan hasil evolusi lebih lanjut dari model pembangunan kuda tunggang. Prinsipnya adalah mendahulukan membangun sektor minoritas agar mempunyai kemampuan untuk menghela sektor mayoritas. Efeknya, menurut Hidajat, tak lain adalah “kemiskinan struktural”, dimana sektor minoritas semakin berkembang, sementara sektor mayoritas, meminjam istilah orang Sunda, tetap “kitu-kitu keneh”. Ini adalah ciri sistem ekonomi kapitalistik-liberal. Pandangan konvensional mengenai pembangunan umumnya juga berangkat dari titik pandang model tarik tambang ini.

Ketiga, adalah model pembangunan DORONG GELOMBANG. Ini adalah model pembangunan yang mendahulukan sektor mayoritas. Sektor mayoritas harus diberdayakan sedemikian rupa sehingga efek daya dorongnya bagi perekonomian nasional jadi lebih besar. Ciri yang ditimbulkan dari diterapkannya model ini adalah keberlanjutan dan terbebaskannya pembangunan dari penyakit kemiskinan struktural. Model pembangunan dorong gelombang ini merupakan ciri dari Sistem Ekonomi Kerakyatan.

Nah, model pembangunan yang berlaku di Indonesia, menurut Hidajat, merupakan kombinasi antara pembangunan kuda tunggang dengan tarik tambang. Pasca-reformasi, kombinasi ini bertambah ruwet oleh berlakunya demokrasi. Dan hasilnya adalah… anakronisme!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.237 pengikut lainnya.