Lompat ke isi

Tuhan yang berbingkai

30 Juli, 2011

Kita sering memberi bingkai pada sosok Tuhan, kita memberi bingkai walaupun didahului kata maha.  Padahal Tuhan tak dapat diberi bingkai, pikiran kita tentang tuhan adalah bingkai yang sebenarnya, karena kita sering menganggap Tuhan seperti manusia yang bisa mendengar (mendengar sesuai definisi manusia), melihat (melihat sesuai definisi manusia), kekal (menurut definisi manusia), berkata-kata (menurut definisi manusia).

Kita menjadi begitu sibuk mendefinisikan sifat-sifat Tuhan, padahal definisi kita tentang Tuhan sebenarnya adalah juga sebuah bingkai yang lain.  Sehingga tanpa sadar kita telah “mengecilkan” tuhan sebatas bingkai fikiran dan definisi kita.

Aku tak mengatakan Tuhan adalah maha besar, karena masih ada bingkai kata maha.  Aku tak mengatakan Tuhan maha perkasa karena masih ada bingkai maha disitu.  Aku hanya yakin bahwa ada Tuhan, seperti apa Tuhan…..? itu tidak menjadi kewajibanku untuk mendefinisikannya atau memberinya bingkai.

Yang kutahu ia ada, dan ia diluar daripada akal dan fikiran.  Yang terasa olehku ada satu tempat dimana Tuhan bisa  bersemayam….tempat itu begitu luas (jika kita ingin meluaskannya hingga tak terdefinisi)…..begitu dalam (jika kita ingin membuatnya dalam hingga tak terdefinisi)………Marhaban yaaaa..Ramadhan.

(pekanbaru digerbang ramadhan, Juli 2011)

CINTA SANG MALAM

15 Juni, 2011

Malam

Menarik Pangeran senja dalam lipatan kelamnya

Ia benamkan Pangeran senja dalam pelukannya yang dalam

Hingga embun jatuhkan tetes kehidupan pada wajah bumi

 

Tuan rembulan penasaran

dari balik kaca jendela

Ia lalu menyibakkan tirai malam

Pangeran senja telah menghilang

 

Malam yang terlihat bagai dewi

Bergumul kembali bersama sunyi

Embun kembali jatuhkan tetes kehidupan pada telaga

Dan Malam  berlabuh di dada pada sang Surya

 

(dg.limpo, pekanbaru juni 2011)

Lingkaran

21 Mei, 2011

Malam

Engkau tetaplah pelabuhan raga

Walau sinar lampu menerangi kegelapanmu

Pagi

Engkau tetap kutunggu

Walau bunyi ayam berkokok memanggilmu

tak lagi bersuara

Waktu terus berjalan

Hidup terus berubah

Sesulit apapun pendakian kehidupan

Langkah kakiku jangan terhenti……

Sebelum kutaklukkan diriku sendiri…

(Pku, 21 May 2011)

Senja Keemasan

27 April, 2011
tags:

Kulewati padang rumput yang mengering, ketika senja menorehkan guratan keemasannya pada langit.

Ibuku…BUMI

27 Maret, 2011

Ibuku Bumi………. ia  memikul beban penderitaan sendiri.  Wajahnya tercoreng moreng, tubuhnya penuh lubang-lubang tikaman, rambutnya habis di gunduli, ia tak pernah mengadukan nasibnya kepada Penciptanya,  semua perlakuan ia terima dengan penuh kasih sayang.  Terkadang ada gundah melanda, dan airmatanya tumpah sehingga bencana dimana-mana.

Ibuku Bumi……..ia harus menahan kesedihannya, sebab kesedihannya akan menghancurkan manusia ..anak-anaknya.

“Ibuku Bumi……….aku ingin tahu……. sampai kapan ibu dapat bertahan dengan penderitaan ini?”,  demikian selalu kutanyakan.  Ia tak menjawabnya hanya desiran angin sepoi-sepoi yang ia kirimkan buatku.

(DG.LIMPO,  2011)

 

PENGEMIS dan NURANIku

27 Maret, 2011

Matamu menatapku dalam…, engkau tak berharap aku berkata-kata, yang terungkap dalam sorot matamu adalah aku memberimu sekeping uang logam atau secarik uang kertas.

Aku tak paham, apakah ini muslihat dengan wajahmu yang memelas atau engkau benar lapar…., aku bahkan tak sanggup mengetuk nuraniku sendiri untuk memahami itu.   Nuraniku telah tertutup awan curiga dan takut yang berlebihan.

Perlahan engkau pindah ke kendaraan di sebelahku dengan mimik yang sama. Sayup-sayup kudengar engkau berkata, “jaman sekarang mencari uang …dengan mengemispun……susah………”.

(DG.LIMPO, perempatan MAL SKA )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.