Tuhan yang berbingkai
Kita sering memberi bingkai pada sosok Tuhan, kita memberi bingkai walaupun didahului kata maha. Padahal Tuhan tak dapat diberi bingkai, pikiran kita tentang tuhan adalah bingkai yang sebenarnya, karena kita sering menganggap Tuhan seperti manusia yang bisa mendengar (mendengar sesuai definisi manusia), melihat (melihat sesuai definisi manusia), kekal (menurut definisi manusia), berkata-kata (menurut definisi manusia).
Kita menjadi begitu sibuk mendefinisikan sifat-sifat Tuhan, padahal definisi kita tentang Tuhan sebenarnya adalah juga sebuah bingkai yang lain. Sehingga tanpa sadar kita telah “mengecilkan” tuhan sebatas bingkai fikiran dan definisi kita.
Aku tak mengatakan Tuhan adalah maha besar, karena masih ada bingkai kata maha. Aku tak mengatakan Tuhan maha perkasa karena masih ada bingkai maha disitu. Aku hanya yakin bahwa ada Tuhan, seperti apa Tuhan…..? itu tidak menjadi kewajibanku untuk mendefinisikannya atau memberinya bingkai.
Yang kutahu ia ada, dan ia diluar daripada akal dan fikiran. Yang terasa olehku ada satu tempat dimana Tuhan bisa bersemayam….tempat itu begitu luas (jika kita ingin meluaskannya hingga tak terdefinisi)…..begitu dalam (jika kita ingin membuatnya dalam hingga tak terdefinisi)………Marhaban yaaaa..Ramadhan.
(pekanbaru digerbang ramadhan, Juli 2011)
CINTA SANG MALAM
Malam
Menarik Pangeran senja dalam lipatan kelamnya
Ia benamkan Pangeran senja dalam pelukannya yang dalam
Hingga embun jatuhkan tetes kehidupan pada wajah bumi
Tuan rembulan penasaran
dari balik kaca jendela
Ia lalu menyibakkan tirai malam
Pangeran senja telah menghilang
Malam yang terlihat bagai dewi
Bergumul kembali bersama sunyi
Embun kembali jatuhkan tetes kehidupan pada telaga
Dan Malam berlabuh di dada pada sang Surya
(dg.limpo, pekanbaru juni 2011)
Lingkaran
Malam
Engkau tetaplah pelabuhan raga
Walau sinar lampu menerangi kegelapanmu
Pagi
Engkau tetap kutunggu
Walau bunyi ayam berkokok memanggilmu
tak lagi bersuara
Waktu terus berjalan
Hidup terus berubah
Sesulit apapun pendakian kehidupan
Langkah kakiku jangan terhenti……
Sebelum kutaklukkan diriku sendiri…
(Pku, 21 May 2011)
Senja Keemasan
Kulewati padang rumput yang mengering, ketika senja menorehkan guratan keemasannya pada langit.
Ibuku…BUMI
Ibuku Bumi………. ia memikul beban penderitaan sendiri. Wajahnya tercoreng moreng, tubuhnya penuh lubang-lubang tikaman, rambutnya habis di gunduli, ia tak pernah mengadukan nasibnya kepada Penciptanya, semua perlakuan ia terima dengan penuh kasih sayang. Terkadang ada gundah melanda, dan airmatanya tumpah sehingga bencana dimana-mana.
Ibuku Bumi……..ia harus menahan kesedihannya, sebab kesedihannya akan menghancurkan manusia ..anak-anaknya.
“Ibuku Bumi……….aku ingin tahu……. sampai kapan ibu dapat bertahan dengan penderitaan ini?”, demikian selalu kutanyakan. Ia tak menjawabnya hanya desiran angin sepoi-sepoi yang ia kirimkan buatku.
(DG.LIMPO, 2011)
PENGEMIS dan NURANIku
Matamu menatapku dalam…, engkau tak berharap aku berkata-kata, yang terungkap dalam sorot matamu adalah aku memberimu sekeping uang logam atau secarik uang kertas.
Aku tak paham, apakah ini muslihat dengan wajahmu yang memelas atau engkau benar lapar…., aku bahkan tak sanggup mengetuk nuraniku sendiri untuk memahami itu. Nuraniku telah tertutup awan curiga dan takut yang berlebihan.
Perlahan engkau pindah ke kendaraan di sebelahku dengan mimik yang sama. Sayup-sayup kudengar engkau berkata, “jaman sekarang mencari uang …dengan mengemispun……susah………”.
(DG.LIMPO, perempatan MAL SKA )


