Sedih tak berujung
SEDIH TAK BERUJUNG
Oleh : DG. LIMPO
ketika banjir datang dan longsor menimpa
teriakan minta tolong terdengar, orang-orang pergi mengungsi
berlarian, kebingungan, berhamburan, tenggelam, tertimbun
jerit tangis orang-orang kehilangan keluarga, harta dan tempat tinggal
aku duduk menonton dan melihat penderitaan orang-orang itu
terkena bencana banjir, longsor, badai
derita….derita….derita…derita…
berita..berita…berita….berita…berita
dari TV disebuah ruangan yang namanya home theater
ketika mereka tenggelam dalam lelap tidurnya
ketika mereka tertimbun dalam mimpi indahnya
dimana…..aku…..dimana….kamu….dimana …..kita….dimana…. kalian
rupanya sedang berpesta pora merayakan tahun baru
joget, mabok, teriak-teriak, menyalakan kembang api
bersorak-sorak, berkaraoke, bersuka ria
sementara itu………………….
disebuah tempat terkurung banjir
seorang anak diatas atap rumahnya…sendiri….
meniup terompet penderitaan
menyanyikan lagu kesedihan
berjoget kedinginan diterpa angin dan hujan
berpesta dalam dentuman kematian
berkaraoke dengan perut keroncongan
berteriak-teriak menantang mautnya
dalam harap menunggu dewa penolong datang
Ayahnya tertimbun longsor
Ibunya terseret arus banjir
Kakaknya entah dimana
pantaslah…..azab….sengsara…derita…
tiada habisnya menerpa ……
karena doa tercampak dipojok-pojok rumah Tuhan
karena rasa cinta tak mampu lagi menggugah hati
maka jadilah kisah sedih tak berujung….

Tak ada yang bisa menerka daeng. Musibah seperti juga sungai musi. panjang dan ramai.. Ya sedih dan prihatin… met tahun baru semoga keprihatinan menjadikan keperihan di hati para orang2 berduit untuk juga iikut perih membantu mereka.
salam
kurtubi
1 Januari, 2008 at 10:43 am
@Kurtubi
Semoga musibah bukan menjadi rutinitas baru bagi kita semua.
—Salam—
daeng limpo
24 Januari, 2008 at 11:33 am