Fatamorgana
Oleh : DG. LIMPO
Gersang
Tak nampak sebatang pohon
padahal dulu disini adalah
hutan yang menghijau
lembah dan ngarai
rawa dan sungai
burung dan satwa liar
Tandus
kini menjadi padang pasir
semua yang indah
akhirnya
menjadi
fatamorgana
25 Jan
Fatamorgana
Oleh : DG. LIMPO
Gersang
Tak nampak sebatang pohon
padahal dulu disini adalah
hutan yang menghijau
lembah dan ngarai
rawa dan sungai
burung dan satwa liar
Tandus
kini menjadi padang pasir
semua yang indah
akhirnya
menjadi
fatamorgana
Posted by Goop on 25 Januari, 2008 at 9:19 am
Seperti bayangan air di atas gurun…
fatamorgana
-keren tuan-
Posted by Sawali Tuhusetya on 25 Januari, 2008 at 11:06 am
ada rasa getir dan pahit yang kurasakan ketika mencoba menghayati puisi ini bung daeng. tanah dami yang suber, penuh dengan pepohonan hijau, agaknya hanya tinggal kenangan. yang muncul justru bangunan2 beton raksasa lenhka dengan cerobong asap yang biki penyakit para penguninya.
Posted by Balisugar on 25 Januari, 2008 at 11:25 am
Halo Pujangga tukeran link sama aku
Posted by bisaku on 25 Januari, 2008 at 11:55 am
Gak ada yang abadi Daeng, seperti keindahan semu di saat jaman Pak Harto dulu, berganti dengan kekalutan maximal di jaman yang katanya pembaharuan ini. Lalu orang-orang seakan melihat fatamorgana, dan parahnya lagi, fatamorgana itu adalah keindahan di jaman Pak Harto
ITulah indahnya puisi, masing-masing orang bisa memberikan arti yang berbeda tanpa perlu terekungkung dalam satu aturan yang pasti, kecuali tarikan napas dari pencipta – akal budi sang penikmat – baris kata dan kalimat puisi, serta yang terakhir mata dan hati sang pujangga yang di “tangkap” oleh sang penikmat.
Terus berkarya Daeng
* mode sok on
*
Posted by Goenawan Lee on 25 Januari, 2008 at 2:13 pm
Be-benarkah negeri ini suatu hari akan menjadi fatamorgana?
Posted by daeng limpo on 25 Januari, 2008 at 2:31 pm
@Goop
Betul Paman, ah..lebih kerenlah Paman nih
@Sawali Tuhusetya
Mungkinkah…ini potret negeriku ?
@Hileud
Teh….malu ah….disebut pujangga, masih jauuuuuuuhhh dan saya nggak mau jadi pujangga entar airmata saya habis, udah saya tuker plus RSS
@bisaku
trima kasih, segala pujian terpulang kepada pemujinya.
@Goenawan Lee
Lha…guwe baru mau nanya sama ente….? kok malah duluan…?
Posted by isnuansa on 25 Januari, 2008 at 5:57 pm
itulah karena pembalakan liar di hutan2…
bener ga sih?
Posted by atapsenja on 25 Januari, 2008 at 9:57 pm
Di padang pasir bukankah masih ada oase? Tidakkah tuan Daeng menemukannya di sana?
Posted by Ersis W. Abbas on 25 Januari, 2008 at 9:57 pm
Wah wah mengasyikkan …pinter bikin puisi ya. Salam
Posted by daeng limpo on 25 Januari, 2008 at 11:37 pm
@isnuansa
bisa jadi….?
@atapsenja
……belum ketemu…..
@Ersis W.Abbas
Ah..Tuan Guru Ersis Jangan begitu….itu kan karena mengikuti petunjuk Tuan Guru. Sebenarnya saya lebih pintar bikin soto Banjar….atau coto Makassar…
—-salam—-
Posted by fauzansigma on 26 Januari, 2008 at 1:20 am
humm, daeng..daeng, kok ngingetin sy ke manis nya janji2 para politikus2 melenceng itu yah..
sy setuju klo mereka itu adlah fatamorgana…
gak pernah ada