Phinisi

menyapa hidup yang terus berjalan

TERPANGGIL

with 3 comments

Ketika maghrib menjelang lamat-lamat kudengar suara azan, ada kerinduan yang terasa dalam hatiku setelah hampir dua belas tahun tak pernah melangkahkan kaki memenuhi panggilan-Mu, lalu kudatangi arah suara itu, sebuah surau tua dikaki gunung Bromo.

Aku ingat masa kecilku dulu setiap subuh dan maghrib sering melantunkan azan di mesjid kampung mengingatkan dan memanggil orang-orang muslim disekitar mesjid untuk melakukan shalat, seperti yang kudengar saat ini. Namun waktu merubah hidupku dan semua itu berubah semenjak aku bekerja dan merantau, karena pengaruh pergaulan dan tekanan hidup yang kualami, setiap malam yang kulakukan adalah variasi dari dosa-dosa ini mabok, main judi, berzina dengan pelacur, berkelahi. Aku telah melakukan semua yang dilarang oleh agama yang aku anut. Sampai-sampai sudah lima tahun terakhir ini aku tiada berkirim kabar kepada kedua orang tua di kampung, apalagi berkirim uang untuk mereka.

Dalam perjalananku ke Bromo, mengapa tiba-tiba panggilan azan itu seakan-akan menyuruhku berhenti, akhirnya ku arahkan mobil menuju ke sumber suara, sebuah surau tua. Setelah kuparkir kendaraanku di pelataran surau, aku mulai menuju ke pancuran air. Suara air yang tumpah dari pancuran yang terbuat batang bambu meneduhkan jiwa dan emosiku. Ketika berwudhu terasa aliran air yang sejuk membasahi anggota tubuhku yang terbasuh, kuresapi setiap basuhannya, dan setiap aku membasuh maka jantungku seakan berdegup memanggil nama-Mu …Allah….Allah….Allah. Diriku seakan dituntun berdoa didalam hati memohon ampun atas dosa-dosa yang telah aku lakukan. Tangan, wajah, hidung, mulut, telinga dan kakiku seperti memohon ampunan kepada-Mu. Lepas wudhu aku masuk kedalam surau itu ada sekitar delapan orang didalamnya yang shalat berjamaah termasuk diriku. Ketika sang Imam mengumandangkan Takbiratul Ihram, hatiku menangis ada sedikit airmata menggantung dipelupuk mata. Begitu teduh rasanya ketika Imam Ruku maka badan dan hatiku ikut ruku, ikut sujud, dan berdoa kepada-Mu. Ya Allah begitu jauh perjalanan yang kutempuh hingga berkelok-kelok namun akhirnya kupenuhi juga panggilan-Mu. Usai melaksanakan shalat aku teringat kedua orang tuaku, segera kuhubungi mereka untuk meminta maaf, semoga saja belum terlambat….

Written by daeng limpo

17 Februari, 2008 pada 2:52 pm

Ditulis dalam Kamar C

Ditandai dengan , , , , , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. subhanallah, Allah SWT memang sering mengingatkan kita untuk mengingat NYA dengan cara NYA sendiri. Bersyukurlah karena cara yang DIA berikan kepada anda sangat menyejukkan

    sandemoning

    17 Februari, 2008 at 4:04 pm

  2. Bang, shalat itu WAJIB hukumnya.. jadi selalu penuhi panggilannnya, sekedar mengadukan apa yang terjadi dengan kita pagi ini, siang ini dan malam ini.

    *sok tahu MODE ON*

    -Ade-

    Sayap KU

    18 Februari, 2008 at 11:59 am

  3. @sandemoning
    Thanks Mas
    @Sayap Ku
    Terima Kasih atas Amar Ma’ruf nya

    daeng limpo

    19 Februari, 2008 at 3:30 pm


Tinggalkan Balasan