Analogi POLISI TIDUR
Hari ini ketika saya melewati sebuah jalan kecil, saya merasa kesal karena di jalan kecil itu saya harus melewati sekitar 5 polisi tidur, padahal panjang jalan kecil itu hanya 150 meteran. Beberapa waktu lalu saya pernah ngobrol dengan kawan saya tentang polisi tidur ini.
K : ngapain sih kok ada polisi tidur di jalan kecil……?
S : biar kendaraan tidak melaju kencang, karena membahayakan anak-anak kecil atau orang yang menyeberang di jalan kecil.
K : lho…kan bisa dipasang plang peringatan, “kecepatan maksimal 20 km/jam” atau “pelan-pelan banyak anak kecil”. Apakah kalau memasang itu masih ada pengendara yang melanggar…?
S : mungkin penduduk di jalan kecil itu takut, karena pengemudi Indonesia bandel-bandel, sedangkan lampu merah saja kadang diterobos kalau tidak ada Polisi.
K : wah, kalau begitu sama saja dengan mau enak sendiri dong…? nggak mau jaga anaknya agar tidak ke jalan, daripada repot menjaga lebih baik pasang polisi tidur…? akhirnya begini….orang lain yang sengsara.
S : tetapi rasanya mereka juga tidak salah-salah amat, soalnya kemarin waktu mereka pasang plang tanda larang. Ada salah seorang warga di jalan kecil itu yang keserempet sepeda motor yang lagi ngebut.
K : kalau hanya satu masalah itu, lalu menganggap semua pengemudi sama seperti itu, juga tidak adil bukan…?
S : Wah, bagaimana kalau anak kamu yang kesrempet…?
K : Nggak ah…, istri saya hati-hati kalau jagain anak. Tetapi entahlah ya..kalau terjadi….?
Saya hanya ingin menitip pesan dari dialog itu. Bahwa kadang kita hanya mencari mudahnya untuk menyelesaikan sesuatu masalah, tanpa memandang akibatnya bagi orang lain. Kate orang Betawi, ah…masa bodoh loe mau repot harus lewat polisi tidur….yang penting guwe bisa tidur. Hal tersebut saya anggap sebagai analogi Polisi tidur.
Artikel berhubungan : http://id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur

kalo mau ke rumah saya ada sekitar 15 polisi tidur.
* tobat-tobat*
tukangobatbersahaja
5 Juni, 2008 at 3:14 pm
Hmm, betul juga sih.
Tapi, kok nggak pake istilah polwan tidur ya? Hehe.
Daniel Mahendra
5 Juni, 2008 at 4:40 pm
untuk mas daniel, kalau yang tidur polwan, nti malah bikin macet. hehehe
Laporan
5 Juni, 2008 at 5:44 pm
analogi yg amat logis..
hanggadamai
6 Juni, 2008 at 4:11 am
di pekanbaru jangan heran pak Daeng, sering dijumpai kok……jalan menuju rumah saya saja yg hanya pendek di pasang polisi tidur, padahal disamping rumah dan depan rumah pak erte dan ketua masjid kami yang dua-duanya pak polisi……..mungkin juga lagi tidur…….huaaaaaaaaaaa..waakakak
Alex
6 Juni, 2008 at 11:30 am
@tukangobatbersahaja


TOBAT ini sebenarnya singkatan TOko oBAT
@Daniel Mahendra
Wah…kendaraannya malah gak bisa lewat….
@Laporan
Benar kata Mas Bandoro, beliau sudah pernah ngalami
@hanggadamai
banjir gak di Bogor ..wakakakakakak
@Alex
Ya itulah pak Alex, waktu jalan rusak dibuat perjanjian jika jalanan di aspal gak boleh buat polisi tidur. Tahu gak apa yang dilakukan, tambang kapal dibuat melintang dijalan……..? memang akal kita untuk hal-hal beginian sungguh hebat.
daeng limpo
6 Juni, 2008 at 11:35 am
Salam kenal bg Daeng
Betul tuh…gara-graara polisi tidur, mesin motor saya hancur. Oli keluar, karena oli sealnya ngantam polisi tidur tadi…. kalau bisa, memang harus ada aturan main atas masalah ini…tentunya dari pemda kita masing-masing.
iselantang
6 Juni, 2008 at 12:12 pm
Salam
he..he..mencegah lebih baik bukan daripada mengobati *nyambung ga ya*
nenyok
6 Juni, 2008 at 12:32 pm
Itulah kalo SIM-nya pada nembak semua.
juliach
6 Juni, 2008 at 7:05 pm
analoginya biar polisi bisa tidur Daeng, coba disetiap perempatan dibikin polisi tidur yaa
hadi arr
6 Juni, 2008 at 9:08 pm
Bahasa yang dipakai dengan memasang polisi tidur adalah bahasa “kasar”, kenapa mereka memakai bahasa “kasar” karena yang lewat juga kebanyakan orang-orang kasar. Kenapa begitu? karena mungkin peradapan kita masih “kasar”. Bagaimana menghaluskannya? Ah banyak tanya, aku tidak tau!! (ini kasar lagi)
Salam dari pinggiran
coretanpinggir
7 Juni, 2008 at 4:55 pm
Ajakan buat blogger Indonesia :
Ayo berikan suara dukungan (vote secara online) buat Danau Toba, Taman Nasional Komodo, dan Gunung Krakatau, dalam pemilihan TUJUH KEAJAIBAN ALAM. Lomba sedunia ini diikuti 77 obyek wisata alam dari berbagai negara.
Saat ini, ketiga obyek wisata kebanggaan kita itu masih terseok-seok di papan tengah. Sebaliknya, negara tetangga Filipina berhasil menempatkan 3 obyek wisata di deretan 10 besar. Vietnam juga luar biasa : menempati peringkat nomor satu !
Mungkin masih banyak rekan-rekan blogger Indonesia yang belum tahu, maka tolong sebarkan informasi ini.
Info selengkapnya, silakan klik link ini :
http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/06/dukung-danau-toba-agar-masuk-tujuh-keajaiban-alam/
terima kasih
tobadreams
8 Juni, 2008 at 1:08 pm
ah tiduuur, ngantuk nih.
ubadbmarko
8 Juni, 2008 at 7:06 pm
Betul jaman sekarang itu harus dipaksa. kalau masih ada celah pasti deh
di trabas……… Jalan singkat udah tradisiiiii……
Airimbang.wordpress.com
H M
8 Juni, 2008 at 8:54 pm