TERTUSUK DURI

Setangkai mawar yang mekar kugenggam,  harumnya menyebar , kuberikan padamu ketika kita duduk berdua pada sebuah taman bunga.   Ketika kau tertunduk malu, kuangkat dagumu lalu kutatap matamu dalam-dalam, ingin rasanya kuselami isi jiwamu, agar tak lagi kureka-reka, apakah dirimu mencintaiku.

“Wien, lihatlah sepasang burung gereja yang bertengger diatas dahan sebuah dahan ketapang”, ucapku mengarahkan perhatiannya.   Ia menyandarkan kepalanya dibahuku, semerbak harum rambutnya membuatku sejenak moksa.  Kubelai rambutnya yang sebahu, ingin kubiarkan ia tertidur pulas, agar dapat melupakan masa lalu.

Winarti memang memiliki masa lalu, sesuatu yang ingin dilupakannya.  Tetapi kadang memorinya kembali ke masa itu, dan aku hanya bisa berharap jiwanya sembuh dari luka-luka cinta yang telah merobek-robek hatinya.   Lelaki pujaannya berpaling cinta pada wanita lain.  Aku selalu berusaha menghiburnya, karena aku tahu jiwanya sedang rapuh.    Ketika senja berlabuh, kuajak dia pulang.  Ia memegang tanganku erat, seakan tak ingin dilepaskannya.   “Aku akan sabar menunggu jawabanmu”, kataku dalam hati.

Keesokan harinya selepas jam kantor, Winarti meneleponku ingin bertemu.   Aku setuju, akhirnya kami bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kantornya.   Setelah kami memesan makanan, ia menatap mataku dan senyum merekah di bibirnya.  Aku merasa bahagia, melihat keceriaannya.   Hari itu menjadi sesuatu yang spesial bagi kami berdua,  ia menyatakan bahwa ia menyukaiku  dan akupun menyatakan hal yang sama.  Aku akhirnya merasakan bahwa kebahagiaan yang dirasakannya, juga adalah kebahagiaanku.   Namun sebuah sms darinya menggugah kesadaranku, “DENI,  HARI INI AKU PULANG KE MAKASSAR.   AKU DIJODOHKAN OLEH KEDUA ORANGTUAKU, DAN AKU MENERIMA PERJODOHAN ITU”.   Isi SMS Winarti itu seperti belati yang mengiris-iris perasaanku, lama aku berpikir mengapa pada perjumpaan sebelumnya ia tak menceritakan ihwal perjodohannya itu..?.  Mengapa ketika benih-benih cinta mekar dihatiku, Winarti justru pergi.   Ternyata aku salah menilai, bahkan ketika aku merasa aku telah memahaminya.

2 Tanggapan to this post.

  1. haduhh, mak jlebh!

    Balas

Tanggapi posting ini