Skip to content

hari esok si kecil penambal ban

27 November, 2007

Anakku, hari ini ayah memandangimu sedang tertidur pulas. Jarimu yang kecil , matamu terpejam ….entah apa yang sedang engkau impikan. Ayah membayangkan dirimu, kelak akan menjadi apa?, saat ini umur ayah semakin bertambah, dan waktu hanya memberi sedikit ruang bagi ayah untuk mengamati perkembanganmu. Duniamu sepuluh tahun yang akan datang tentu jauh berbeda dengan dunia yang ayah hadapi saat ini. Ayah merasa, sekarang saja hidup susah dan rumit, bagaimana sepuluh tahun kemudian ?. Anakku, ayah membesarkanmu dari pekerjaan sebagai seorang penambal ban , kadang engkau ikut membantu ayah di bengkel sekedar untuk mengambil peralatan yang ayah butuhkan.

 

Ayah tidak berharap engkau menjadi penambal ban, ayah ingin engkau kelak menjadi seorang yang lebih baik dari ayah saat ini. Anakku, tahun depan engkau sudah dapat masuk ke sekolah dasar. . Ayah akan berusaha untuk dapat menyekolahkanmu hingga menjadi seorang dokter atau seorang pengacara atau seorang arsitek, walau ayah tahu biaya sekolah begitu mahal . Kadang ayah bertanya-tanya, di jaman ini dapatkah seorang anak belajar tanpa harus melalui sekolah resmi, bila memang kemudian biaya tidak mencukupi biarlah ayah yang akan mengajarimu membaca, berhitung dan menulis. Masih banyak pekerjaan lain yang menurut ayah tidak perlu duduk di bangku sekolah. Engkau bisa jadi pengarang, penulis, atau seorang pemain musik hebat.

 

Anakku, saat ini pekerjaan sebagai penambal ban semakin sulit. Disetiap pinggir dan sudut jalan dikota ini hampir ada penambal ban, dalam sehari kadang penghasilan ayah tidak cukup untuk membiayai hidup kita. ayah juga harus menjagamu dari lingkungan kita yang kumuh, dimana kejahatan dan penyakit mengintai kita setiap saat.

 

Anakku, tidak ada sedikitpun penyesalan dihati ayah menjalani hidup seperti ini. Ini bukanlah pekerjaan yang memalukan. Walaupun terkadang ayah berharap ada kendaraan yang mampir kebengkel ayah, tetapi ayah tidak pernah mendoakan supaya kendaraan orang kempes atau kena paku. Yang Maha Kuasa memberi peran ini kepada ayah untuk dapat melakoninya di dunia ini. Setiap hari ayah menambal ban sepeda motor dan mobil, yang seumur hidup ayah, tak mungkin dapat memilikinya dari penghasilan sebagai penambal ban.

 

Anakku, ayah sebenarnya ingin pulang ke kampung. Kehidupan disana lebih cocok untuk kita, di kota ini kehidupan begitu keras. Hanya apa yang dapat ayah lakukan dikampung, sepetak tanah kita telah terjual untuk biaya pengobatan ibumu yang meninggal setelah terserang penyakit tipes.

 

Perlahan kuambil selimut untuk menutupi tubuh anakku agar tidak digigit nyamuk. Hawa gerah malam ini , pertanda akan turun hujan. Perlahan kulipat kertas , kuletakkan pena lalu kurebahkan diriku dan berharap masih ada hari esok buat kami berdua.

3 Komentar leave one →
  1. 28 November, 2007 8:30 pm

    anakku rasakan atmosver perjuangan ayahmu, resapi vitalitasnya, usap keringatnya dengan cinta, semua pertaruhan ini menyangkut diirmu. kaulah gravitasi dari semua rotasi ban-ban itu.

    salam kenal…suka banget dengan narasi2 sperti ini. pengen nangis hukhukhuk.

  2. 29 November, 2007 7:21 am

    @leny
    ngikut bang Pandapotan ..Kuat….

  3. mataharicinta permalink
    6 Desember, 2007 12:00 pm

    huhuhu, neng jadi kangen sama papa neng:(
    kapan ya terakhir kali neng tidur dan diselimuti sama papa?
    rasanya udah lamaaaaaaaaa banget:(
    sekarang, udah gede gini, rasanya pengin banget pulang kampung dan bilang ke papa, kalo neng sayaaaaaaaaaaang banget sama beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: