Skip to content

Nasionalisme dan Kemiskinan

5 Desember, 2007

Masih ingat dengan pepatah dari seorang negarawan paman sam JOHN F. KENNEDY, yang berbunyi :

Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu tetapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk negaramu

Sebuah ungkapan nasionalis, bahwa seorang warganegara hendaknya bertanya dulu pada dirinya, apa yang telah dia sumbangkan untuk negara ?. Menghubungkan pernyataan tersebut dengan realita di negara kita, apa yang telah kita berikan untuk negara, tentunya jawabannya kembali kepada diri anda dan saya. Jawabannya bisa beraneka macam, ada yang mengatakan bahwa sebagai pengusaha dengan membayar pajak saya telah memberikan pengabdian saya untuk negara, ada juga yang mengatakan sebagai seorang guru didaerah terpencil saya telah memberikan pengabdian saya untuk negara, dan masih banyak jawaban lain yang tentunya tergantung dari apa profesi dan pekerjaan yang anda geluti saat ini.

Lalu tentu sebagai warga masyarakat, kita juga ingin tahu apa kemajuan apa yang telah diperoleh negara kita sejak merdeka enam puluh dua tahun yang lalu , setidaknya dilihat dari tingkat kesejahteraan. Mari kita lihat data BPS dibawah ini tentang jumlah penduduk miskin dan pengangguran, sebagai parameter dari suatu negara yang sejahtera dan adil.

  • Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2006 yang berjumlah 39,30 juta (17,75 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,13 juta.
  • Jumlah penganggur pada Februari 2007 mengalami penurunan sebesar 384 ribu orang dibandingkan dengan keadaan Agustus 2006 yaitu dari 10,93 juta orang pada Agustus 2006 menjadi 10,55 juta orang pada Februari 2007, dan mengalami penurunan sebesar 556 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2006 sebesar 11,10 juta orang.
  • Jumlah angkatan kerja Februari 2005 mencapai 105,8 juta orang, bertambah 1,8 juta orang dibanding Agustus 2004 sebesar 104,0 juta orang.

    Walaupun secara angka dinyatakan bahwa jumlah penduduk miskin pada periode tahun ini menurun, tetapi dengan jumlah 16,58 % tersebut masih cukup tinggi. Demikian pula dengan jumlah pengangguran terbuka sebesar 10,93 juta orang. Tingginya tingkat kemiskinan dan angka pengangguran diatas menunjukkan bahwa kesejahteraan belum merata.

    Namun mungkin ada sedikit kabar gembira bahwa berdasarkan hasil survei dari Merill and Lynch dan Capgemini dua institusi keuangan Amerika Serikat, jumlah orang kaya di Indonesia meningkat 16 persen menjadi 20.000 orang (27/6)

    Capgemini dan Merrill Lynch mendefinisikan jutawan adalah seseorang yang memiliki kekayaan senilai lebih dari US$ 1 juta dalam bentuk aset finansial seperti uang tunai, ekuitas, dan surat berharga. Itu tidak termasuk aset-aset lain seperti tempat tinggal atau koleksi pribadi seperti barang-barang seni, antik atau koin.

    Jadi kalau dihitung total kekayaan para orang kaya indonesia tersebut serendah-rendahnya sekitar 20.000 juta dollar Amerika atau 20 milyar dollar atau jika dikurskan sekitar 180 trilyun (dengan kurs Rp.9.000/USD) .

    Berharap kepada pemerintahan sekarang untuk dapat segera menuntaskan masalah kemiskinan dan pengangguran juga terasa berlebihan. Tidak tuntasnya kedua hal tersebut diatas pada setiap periode pemerintahan, menyebabkan penumpukan masalah pada pemerintahan selanjutnya. Jadi pemerintahan sekarang sebaiknya mulai menyicil masalah-masalah tersebut, agar pemerintahan selanjutnya tidak hanya bekerja sebagai “tukang cuci piring” atau pemerintahan sekarang tidak dianggap “mencuci tangan”. Karena rakyat memilih presiden bukan untuk menjadi tukang cuci piring dan tukang cuci tangan, tetapi rakyat sebenarnya mencari seorang “nakhoda” yang akan membawa mereka ke satu tujuan yaitu masyarakat yang adil dan sejahtera.

    Nasionalisme tumbuh dari ikatan yang kuat antara Pemerintah dan Rakyat, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Tetapi bila terjadi sebaliknya Berat dipikul Rakyat dan Ringan dipikul Pemerintah (pejabat Negara), maka Nasionalisme perlahan-lahan akan pudar dengan sendirinya, karena ketidak percayaan rakyat. Akibatnya terjadi ketidak puasan yang berujung pada perlawanan dan pemberontakan, karena perut rakyat yang lapar tidak akan kenyang oleh omongan dan ceramah tetapi oleh makanan, dan makanan bisa diperoleh bila tersedia lapangan kerja yang memadai.

    Silahkan anda lihat secara lengkap dalam format pdf. data bps tentang ketenaga kerjaan DISINI dan tingkat kemiskinan DISINI.

    5 Komentar leave one →
    1. Sayap KU permalink
      6 Desember, 2007 12:20 pm

      be the first alias pertamaxx

      baca nanti !!

    2. Sayap KU permalink
      6 Desember, 2007 12:23 pm

      Kenyataan memang kita tidak bisa menunggu negara untuk membantu yang miskin pak. Ade lebih suka langsung …

      -Ade-

    3. 18 Desember, 2007 2:56 pm

      Secara morill seharusnya negara dalam hal ini pemerintah bertanggung jawab atas kemiskinan dan pengangguran yang terjadi. Karena rakyat telah memilih mereka untuk menjalankan tugas tersebut.

    4. ASA permalink
      5 April, 2008 7:21 pm

      Kemiskinan bukanlah bencana bagi sebuah negara. Sebenarnya bila kita mau berusaha, pasti kita dapat membrantas kemiskinan. Dengan tekat, dukungan, dan doa “Ayo kita brantas kemiskinan di Indonesia !”

    5. 29 April, 2008 4:46 pm

      @ASA
      Ayo…mulai dari tetangga dekat disekitar kita.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: