Skip to content

Cerpen : Setangkai Edelweiss untuk Santi

27 Maret, 2008

budpar-sulsel.jpg

“Maaf, aku tak bermaksud melukaimu, namun ini harus kukatakan demi dirimu sendiri. Jangan sampai dirimu menyesal kelak”, demikian kata Said kepada Santi. Said sudah lama menaruh hati kepada Santi, namun sayang….. Santi nampaknya tidak tertarik kepada Said, mungkin karena mereka sudah berteman sejak kecil sehingga Santi merasa Said tidak lebih dari seorang abang baginya.

Santi jatuh cinta kepada Rasyid seorang laki-laki teman sekantornya yang telah beristri, entah mengapa setiap kali menatap mata Rasyid yang teduh, Santi merasa tenang dan sejuk. Santi tahu Rasyid sudah beristri, juga tahu bahwa Rasyid sedang ada masalah dengan istrinya. Pernah suatu ketika Santi mencoba menarik perhatian Rasyid dengan mengiriminya SMS bahkan menelepon ke handphonenya. Awalnya Rasyid tidak serius menjawabnya, hanya guyon saja. Namun hari itu….hari yang tidak dapat ia lupakan, Rasyid yang meneleponnya ingin sekedar berbincang-bincang. Maka merekapun menentukan tempat bertemunya dipantai Losari sehabis pulang kantor, sambil menikmati indahnya matahari terbenam.

Saat mereka bertemu di pantai Losari, Rasyid awalnya tidak mau berterus terang tentang apa sebenarnya yang ingin dia sampaikan. “Daeng, minta pisang epek 2 porsi”, kata Rasyid kepada si Daeng penjual pisang epek. Rasyid mulai membuka pembicaraan, awalnya sekedar pembicaraan biasa, namun kemudian Rasyid mulai membuka sedikit apa sebenarnya yang ingin dia utarakan. “Santi aku mengajakmu kesini, sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal hatiku”, kata Rasyid. Santi berdebar-debar ingin mengetahui apa yang akan diungkapkan oleh Rasyid, “apakah kamu suka sama aku?” Tanya Rasyid kepada Santi. Seperti orang kena setrum Santi sedikit kaget mendapatkan pertanyaan mendadak seperti itu. Lama ia terdiam, walaupun sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa ia menyukai si Rasyid. Namun sebagai wanita ia tahu bahwa tak sepatutnya ia mengiyakan pertanyaan Rasyid.

“Kamu suka aku nggak?”, Tanya Santi kepada Rasyid. “Aku Suka”, jawab Rasyid. Santi kembali terdiam ia bingung apa lagi yang hendak dia tanyakan. “Aku suka kamu, kamu cantik dan pandai, tapi sayang aku sudah memiliki istri walaupun sebenarnya setahun sejak pernikahan kami, kami sudah pisah ranjang” kata Rasyid . “lho, kok bisa pisah ranjang?”, agak gugup Santi menanyakan hal itu.

Rasyid mulai mengalirkan ceritanya, “Ceritanya berawal ketika aku tahu, sewaktu malam pertama dia bercerita bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Namun sayangnya mengapa sejak awal hubungan kami, ia tidak pernah menceritakannya kepadaku, aku merasa ia tidak jujur membina hubungan kami, aku merasa kecewa”. Santi mengambil saputangan dan mulai mengusap keringatnya di dahi,”pentingkah arti keperawanan bagimu?” tanya Santi. Sejenak Rasyid menarik nafas lalu melanjutkan kisahnya,”sewaktu umur 17 tahun istriku itu diperkosa oleh pacarnya sehabis nonton film porno”. Santi melihat jam tangannya sudah pukul 08.00 malam, ia lalu mengajak Rasyid untuk pulang, ia tidak mau awal yang membahagiakannya ini ternoda oleh berbagai pertanyaan konyolnya.

Santi tidak tahu bahwa cerita itu hanyalah tipuan Rasyid yang ingin memuluskan rencananya untuk meniduri Santi, walaupun sebenarnya Santi juga senang sama Rasyid. Esok harinya mulailah satu-demi satu cerita Rasyid masuk kedalam pikiran Santi, Santi sudah tak dapat lagi membedakan mana cerita yang sesungguhnya dan mana yang bukan, Santi sudah terbutakan oleh hasrat cintanya. Hingga suatu waktu Santi jatuh kepelukan Rasyid, mulailah sejak itu pertemuan demi pertemuan mereka habiskan bersama. Mana Nafsu mana cinta? Mana kebahagiaan dan mana penderitaan? Sudah tak dapat lagi dibedakan oleh Santi….ia merasa mabuk kepayang oleh rayuan-rayuan Rasyid.

Lama-lama Santi sadar bahwa Rasyid sudah mulai banyak berbohong, dan tidak menepati janji. Namun sudah terlambat, Santi sudah mengandung janin Rasyid diperutnya, ia merasa malu karena Rasyid sudah mulai menghindarinya. Rasyid tidak mau bertanggung jawab dengan janin yang ada diperut Santi. Rasyid merasa bahwa sebelumnya ia sudah memperingatkan Santi akan resiko kehamilan itu. Santi mulai menyadari perkataan sahabatnya Said, “bahwa antara Cinta dan Hasrat ingin memiliki sangatlah samar, sehingga banyak pria dan wanita yang tertipu”. Santi lalu menelepon Said dan minta bertemu di perpustakaan Benteng Rotterdam, walaupun Santi sebenarnya merasa malu bertemu Said. Tetapi selama ini yang sering sabar mendengar keluhannya hanya Said, ia akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi. Usai mendengar kisah Santi, Said memberinya sebuah edelwijs. Santi tertegun, ketika Said membisikkan kepadanya bahwa ia bersedia menikahinya. Said mencintai Santi, namun ia tidak pernah berusaha memaksa Santi untuk menyukainya, baginya Kebahagiaan Santi juga kebahagiaannya tak perduli ia memilikinya atau tidak. Baginya Santi adalah sahabatnya dan akan tetap menjadi sahabatnya.

Santi dan Said akhirnya melangsungkan pernikahan di kampung Said kota Malino yang dingin. Setelah anak Santi lahir, Said lalu membulatkan tekad untuk menetap dikota itu. Said bersedia menjadi ayah bagi anak Santi, walaupun anak itu bukan anak Said. Santi perlahan mulai menyadari bahwa sebenarnya Said adalah suami sekaligus sahabat setianya. Said membeli sebuah rumah mungil dan tanah dari hasil tabungannya selama bekerja di Makassar, dan kemudian mereka beternak ayam potong. Mereka hidup bahagia hingga tua dan memiliki 3 anak hasil perkawinan mereka berdua. Hidup memang tak bisa diduga.

      • pisang epek=pisang yang dibakar lalu ditekan hingga penyet
      • Kota Malino terletak di Sulawesi Selatan tepatnya di Gunung Bawakaraeng, sebuah kota bersejarah tempat dilangsungkannya perjanjian untuk mendamaikan Pertikaian SARA di Poso. Lokasinya yang dingin cocok untuk anda berwisata.
      • Pantai Losari terletak di Makassar.
      • Benteng Rotterdam atau Somba Opu terletak di Makassar merupakan benteng peninggalan Belanda
    • Catatan : Mohon maaf jika ada nama yang sama atau kisah yang mirip, karena semua tokoh dan kisah disini hanya rekaan saja.

      foto diambil dari website : website seni, budaya dan pariwisata SULSEL

    3 Komentar leave one →
    1. 27 Maret, 2008 8:09 pm

      pisang epek satu tuanku:mrgreen:
      enak nih, sambil baca cerita makan pisang epek😀
      _________________________________________
      btw, maaf bila saya tak salah baca, ada beberapa santi yang tiba-tiba berubah menjadi sinta tuan..
      _________________________________________
      dan cinta, sepertinya bersembunyi dalam kelindan nafsu yak😦

      ::dg.limpo
      thanks uncle….atas koreksinya, saya senang berarti uncle goop membaca lebih detil hingga dapat menemukan kesalahan itu.
      sukses untuk anda

    2. 28 Maret, 2008 9:52 am

      BUNUH Rasyid !! ….

      ::dg.limpo
      mbak rindu…pernah jadi korbannya jugak ya?😀

    3. 28 Maret, 2008 11:43 am

      ini bukan kisah nyata kan??:mrgreen:

      ::dg.limpo

      bukan…., ini kisah kisahan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: