Skip to content

Tidak ada kebebasan yang benar-benar BEBAS

2 Juni, 2008

Sekumpulan manusia yang tinggal disuatu tempat biasanya akan membuat sebuah aturan yang mengikat diantara mereka dengan tujuan agar hak-hak setiap manusia di wilayah tersebut terjaga. Misalnya dibuatlah sebuah aturan tentang tamu harus melapor 2x 24 jam kepada RT setempat. Tujuannya misalnya agar wilayah mereka tidak dijadikan lokasi persembunyian para kriminal, atau sebagai tempat kumpul kebo. Salah satu negara yang melakukan hal tersebut adalah Perancis yang melarang pemakaian simbol-simbol agama di sekolah- sekolah dengan tujuan mengurangi gesekan antar umat beragama. Lalu Turki yang kemudian memperbolehkan mahasiswinya mengenakan jilbab (setelah sebelumnya dilarang), jadi kebebasan juga tetap ada pembatasan-pembatasan yang diperlukan untuk melindungi suatu negara atau masyarakat.

Bebas memang mutlak bagi setiap individu, tetapi manusia tidak dapat benar-benar “bebas”. Anda tidak dapat menyatakan kebebasan anda tanpa memperhatikan kebebasan orang lain, misalnya anda merokok di sebuah bus umum, dimana juga terdapat orang-orang yang tidak merokok. Tentu bukan kebebasan seperti itu yang kita harapkan.

Saya pribadi berharap kebebasan di negeri ini bukanlah kebebasan yang asal-asalan, yang di hembuskan dengan tujuan pembodohan, yang pada akhirnya akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Issu tentang kebebasan juga bukanlah sesuatu yang perlu kita takuti, tetapi hendaknya kita cermat karena bisa saja terjadi issue itu di tunggangi oleh kepentingan-kepentingan para pebisnis, politikus atau bisa saja menjadi agenda politik negara-negara tertentu untuk menghancurkan Indonesia. Jadi lihatlah kebebasan sebagai sesuatu yang mendamaikan, ia datang dengan damai dan menetap di dalam hati juga dengan damai. Jika anda harus mengurangi rasa bebas anda agar tetangga anda senang, mungkin anda bersedia, tetapi tetangga anda juga hendaknya melakukan hal yang sama dengan yang anda lakukan, sehingga timbul rasa saling menghormati. Jika tidak, maka yang timbul adalah penindasan atas nama kebebasan. Jika kebebasan diartikan sebagai salah satu pihak “dipaksa” untuk berbesar hati, tetapi pihak yang lain justru “bebas” menginjak-injak pihak tersebut. Maka makna kebebasan akhirnya menjadi “alat”.

Lalu kebebasan seperti apa sih yang anda inginkan…..?

9 Komentar leave one →
  1. 2 Juni, 2008 1:34 pm

    bebas mesti betanggung jawab.. kita bebas orang g’ ada yang terluka atau tersakiti karena kebebasan kita

  2. 2 Juni, 2008 1:37 pm

    kebebasan yg bertanggung jawab daeng,,

  3. 4 Juni, 2008 4:06 am

    Tidak ada kebebasan yang absulut, liberalisme di barat menganut kebebasan individu secara penuh, meskipun begitu mereka memiliki aturan dan undang-undang lebih banyak dan lebih tebal di bandingkan dengan UUD RI. Liberal di negara-negara barat berjalan karena berakar dari culture yang ada semenjak nenek moyang mereka.
    Sedangkan kebebasan yang ada di Indonesia adalah kekebasan yang berakar dari cultur yang ada di Indonesia, dalam hal ini tentu saja disarikan ke dalam sila-sila Pancasila.
    Pemerintah China menolak ketentuan HAM seperti di yang berlaku di barat, dengan alasan bahwa masyarakat China memiliki culture tersendiri yang paling sesuai dengan rumusan HAM untuk diimplementasikan di masyarakat China.

  4. 4 Juni, 2008 9:37 am

    @zoel chaniago
    setuju
    @hanggadamai
    tetapi bukan bebas menggauli lho hangga😀
    @Laporan
    Wah, saya mendapat masukan yang berharga dari Mas Bandoro. Thanks.

  5. 5 Juni, 2008 4:27 pm

    Terkadang ada perbedaan pengertian tentang kebebasan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya…

  6. 6 Juni, 2008 12:36 pm

    salam
    Idem ma zoel n hangga “kebebasan yang bertanggung jawab* dalam arti tak salah adn sunatullah jika kita majemuk dalam berkehidupan tapi jangan semena2 kemudian menafikan fithrah, berlindung di balik baju kebebasan untuk mengatakan yang jelas2 salah menjadi benar, membiasakan pada hal2 negatif, tentu tidak kita harapkan bukan *sok iye mode:ON*😀

  7. 13 Juni, 2008 4:49 pm

    Kebebasan tidak absolut…….ada etika, adab dan norma serta hukum yang mengikatnya.

  8. rostime manullang permalink
    17 Oktober, 2008 10:20 am

    Kebebasan harus dikaitkan dengan pertanggung jawaban, kadang karena diberikan kebeasan banyak orang menafsirkan bebas berbuat semau gue, harus ada batas dan tanggung jawab, tanpa menyakiti dan mengecewakan pihak lain.

  9. 11 Juni, 2010 2:52 pm

    kalau kata saya kebebasan adalah g terikat ama materi hanya terikat ama tuhan
    silahkan kunjungi wordpress kami juga di
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: