Skip to content

Paccena Tallasa

4 Juni, 2008
tags: , ,

Paccena Tallasa
Oleh : Dg.LIMPO
******************
dalam sebuah perkelahian
aku terpojok oleh lawanku
lalu kucabut badik yang kusiapkan
kutikamkan tepat ke jantungnya
dia bersimbah darah segar
sambil memegangi dadanya
dia meringis ………….
kutusukkan sekali lagi……..
hingga akhirnya dia menggelepar
aku panik tak tahu apa yang kulakukan
dalam hati aku berkata,
“Lamellong kita berkawan sejak kecil,
tetapi mengapa harus berakhir begini……….?”
itulah yang kuucapkan setelah kutikam dia
hanya sekejap api di dadaku membakar
kini menyesalpun sudah tak berguna
walau sebenarnya kami hanya saling cemburu
berebut seorang wanita cantik
yang bahkan kami belum tahu
pada siapa cintanya ingin dia serahkan
benarkah padaku…..
lalu apa yang kudapatkan kini
hanya malu…….
Besse meninggalkanku
karena aku seorang pembunuh
tinggallah aku meratapi nasib
di dalam hotel prodeo

9 Komentar leave one →
  1. 4 Juni, 2008 6:08 pm

    *garuk2 pala*
    diriku gak ngerti daeng..😦

  2. 4 Juni, 2008 8:24 pm

    Paccena Tallasa, penyesalan terasa.

  3. 4 Juni, 2008 9:23 pm

    @hanggadamai
    pedihnya hidup
    @indra keenam
    sebuah puisi narasi tentang seorang yang terbakar emosi dan akhirnya menyesali diri. Puncak dari emosi adalah membunuh, setelah terlampiaskan apa yang dia dapatkan….? cintapun tak dia dapatkan. Jadi mari saling mengingatkan untuk menjaga emosi.

  4. 5 Juni, 2008 11:34 am

    Tulisan orang FPI yah … hahahaha🙂

  5. 5 Juni, 2008 4:36 pm

    Hmmm… satire… satire…🙂

  6. 6 Juni, 2008 11:35 am

    Sabar dan Sholat itu penghibur diri ketika lagi marah dan emosional memuncak……

    Paccena Tallasa ??? Bahasa Makassar ya pak Daeng ??

  7. 6 Juni, 2008 11:37 am

    pindah numpang ke kapal WP pak , di kapal BS udah penuh…………hehe

  8. 6 Juni, 2008 11:43 am

    @Rindu
    Salah satu akibat emosi, yang dialami FPI.
    @Daniel Mahendra🙂
    @Alex
    herannya justru sebagian dari orang yang shalat gak bisa menahan emosi….?
    @Alex
    enak pak….

  9. 16 Juni, 2008 1:11 pm

    wih, smoga kita terhindar dari emosi. semoga budaya Siri’ kita tepat sasaran

    permisi om, saya tertarik dengan puisi2 ta’, saya link ke blog ku nah………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: