Skip to content

Siksa, apa dan siapa yang merasakannya…?

7 September, 2008

Benarkah tubuh yang merasakan siksa ataukah sesuatu yang ada di dalam tubuh yang merasakannya…?. Saya teringat bahasan dari Abu sangkan dalam websitenya Dzikrullah.com. Berikut adalah kutipan dari pembahasan di webnya tersebut.

Tuhan Menyiksa Dirinya?


Bagaimana caranya merasakan adanya Rohani yang sejati.

Itu soal yang sederhana sekali. Ada prinsip yang aktif yang menyebabkan badan bergerak. Apabila prinsip itu tidak ada, maka badan tidak bergerak lagi, jadi harus ada sesuatu di dalam badan yang menyebabkan badan itu bergerak. Itu bukan konsep yang sulit sekali. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah prinsip yang aktif itu ? Pertanyaan ini merupakan hakikat filsafat.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita mulai mulai dengan pertanyaan lain, “bagaimana sifat sang roh di dalam badan ??”, kemudian “bagaimana membedakan antara badan yang masih hidup dan badan yang sudah mati ?”.

Badan selalu mati.

Badan seperti mesin besar yang terbuat dari unsur-unsur alam yang mati, sama seperti mesin-mesin yang dibuat manusia (misalnya tape recorder), yang ketika anda sebagai orang yang masih hidup menekan tombol ‘play’, maka mesin itu bekerja. Bedanya, di dalam badan ada prinsip yang aktif (daya hidup). Selama daya hidup tersebut tetap berada di dalam badan, badan bergerak dan kelihatannya hidup. Misalnya kita semua mempunyai kekuatan untuk bicara, kalau saya meminta supaya salah seorang diantara teman-teman datang kemari, dia akan datang, tetapi kalau prinsip yang aktif meninggalkan badannya, walaupun saya memanggilnya selama beribu-ribu tahun, dia tidak akan datang !!

Ini adalah hal yang mudah difahami, tetapi justru apa yang merupakan prinsip yang aktif itu ? jawaban atas pertanyaan itu merupakan awal sejati pengetahuan ruhani. Tetapi bagaimana caranya kita akan menjadi sadar akan prinsip ini .. sebagai pengalaman langsung bukan hanya sebagai kesimpulan intelektual ?

Mudah sekali saya kira untuk memahami hal tersebut diatas, apabila kita sadar bahwa tubuh kita adalah sebuah benda mati seperti benda-benda lainnya, karena terbuat dari unsur-unsur alam semesta ini. Ketika saya meninggalkan tubuh ini, ketika tubuh saya mati dan dimakan ulat dan kemudian lenyap tak berbekas, saya tidak merasakan apa-apa. Mengapa saya tidak merasakan sakitnya tubuh yang dimakan ulat tadi ?? hal ini mirip peristiwa yang terjadi kepada Sayyidina Ali tatkala beliau melakukan shalatnya dengan ‘khusyu’ dan sebatang anak panah yang tertancap pada badannya dicabut, beliau tidak merasa sakit.

Apakah atau siapakah yang tersiksa ??

Mari kita memasuki kefahaman ilustrasi dari kehidupan rohani kita. Saat kita berada di sebuah ruangan yang bersuhu dingin, kemudian kita pindah kesebuah ruangan panas, atau masuk keruangan yang gelap dan yang terakhir adalah ruangan terang . Setelah itu keluarlah dari ruangan-ruangan tersebut.

Pertanyaannya adalah, tahukah ruangan dingin itu bahwa dirinya dingin ??, tahukah ruangan panas bahwa dirinya panas ??, tahukah ruangan gelap dan terang itu atas keadaannya ?? jawabnya tidak tahu . Agar ruangan itu tahu (merasakan) bahwa dirinya dingin, panas, gelap harus ada yang aktif yang bisa memberikan informasi bahwa dirinya dingin atau panas !! yaitu AKU. sang AKU yang aktif itu, bukan yang tersiksa, bukan yang kepanasan, bukan yang kegelapan, karena AKU bukan ruangan-ruangan itu. Lalu siapa yang terang, siapa yang gelap, siapa yang dingin, siapa yang panas ?? Kalau ruangan itu mengembalikan kepada yang aktif itu, maka ruangan itu tidak merasakan apa-apa, tidak ada dingin, tidak ada panas, dan tidak ada gelap dan terang, seperti halnya ruangan badan ini yang kalau dicubit terasa sekali sakitnya, akan tetapi jika anda meninggalkan badan ini apakah melalui shalat khusyu’, pingsan atau mati, maka anda tidak merasakan kesakitan lagi. Lalu siapa yang merasa kesakitan tadi ??

Mengapa saya yang sakit, lalu tidak merasa sakit jika saya tinggalkan badan ini ?. Apa yang menjadi prinsip sehingga pengertian inna lillahi wa inna ilahi raaji’uun mudah difahami dengan sederhana ?.

Manusia terbuat dari ekstrak tanah setelah disempurnakan bentuk kejadiannya , maka dihembuskan Ruh-Ku , Ruhani dari Tuhan. sebagaimana firman Allah dalam surat Al hijr 28-29 . :

Dan (ingatlah) , ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat ” sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya Ruh (ciptaan-Ku), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Pada mulanya, manusia adalah sebuah bentuk yang diciptakan dari unsur tanah yang tidak mempunyai daya apa-apa. Manusia adalah sebuah benda yang tidak hidup, tidak aktif, tidak mampu merasakan apa-apa, tidak kuasa, tidak pandai dan tidak kaya !! sehingga kita sering menyebut laa haula wa quwwata illa billah, tiada daya upaya kecuali kekuatan Allah semata. Mari kita perhatikan unsur-unsur tubuh kita yang sebenarnya . Apakah benar unsur-unsur itu mati ?. tidak ada apa-apanya jika tidak ada Ruh yang bergerak ….perhatikan satu unsur dalam tubuh kita, yaitu atom-atom kecil yang menjadi bagian tubuh kita yang tersusun menjadi sebuah senyawa dan molekul. Ia bergerak dengan teratur, …..sebuah atom memiliki sebuah inti yang terdiri dari proton-proton yang bermuatan positif dan neutron-neutron netral (tidak bermuatan) yang disekelilingnya berputar electron yang bermuatan negatif. Pemandangan tiga dimensi dari atom tersebut menunjukkan electron-electron yang sedang mengelilingi inti pada kecenderungan satu sama lain. Benda-benda kecil itu bergerak dengan teratur dalam sebuah hukum gerak yang hidup dan terencana . Ia tidak kuasa mengikuti gerak yang memaksa dirinya. Suka tidak suka ia harus mengikuti gerak itu. Jika sebuah matahari ataupun bumi merupakan kumpulan dari atom-atom, maka semua jagat raya ini bergerak dalam satu aturan yang sama, dan dalam gerak yang sama. Sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an : kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati. ( QS: Fushilat :11 )

Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan pengaturan Sang Hidup, Dan peraturan yang telah ditetapkan Allah itu tidak akan berubah selamanya.

Terkait dengan persoalan bahasan utama kita yaitu bagaimana Allah meniupkan roh-Nya kepada tubuh manusia, yang pada hakikatnya adalah sebuah kumpulan atom-atom yang bergerak dan hidup. Mungkinkah istilah meniupkan dihapuskan, untuk menghilangkan kesan bahwa ruh itu dihembuskan seperti halnya udara yang ditiupkan kedalam balon karet?. karena kata tersebut hanya merupakan kata bantu untuk memudahkan dan menyederhanakan bahasa yang agak rumit di jelaskan (mutasyabihat).

Bukankah pengertian kita sekarang mulai berkembang? Siapa sebenarnya yang menggerakkan alam semesta, atau atom-atom dalam tubuh kita ?, tidak ada lagi istilah keluar masuknya roh manusia yang seakan rohani itu ditiupkan.

Pengertian inilah yang pertama kali saya ingin ungkapkan agar kita menjadi mudah memahami apa itu kesadaraan rohani. Dengan pemahaman tersebut kita menyadari bahwa rohani kita bukan lagi berada di dalam tubuh ini akan tetapi meliputi tubuh dan alam semesta (berada di dalam dan diluar sekaligus).

Kesimpulan bahwa yang digerakkan, dihidupkan, dirasakan, dimatikan, di kembang biakkan , adalah materi-materi itu …sehingga mereka menjadi merasakan bergerak, berperasaan, sakit, senang …dst. Dengan demikian kalau kita ingin terbebas dari semua rasa tadi maka kita harus mengembalikan segala sifat itu kepada yang memiliki-Nya, Inna lillahi wa inna ilahi raaji’uun …..Sesunggguhnya Kami, berasal dari Allah dan sesungguhnya Kami semua kembali kepada-Nya.

Catatan :
Materi ini, sebenarnya dibahas melalui tahapan yang agak lama dan melalui proses pengajaran spiritual yang kontinyu, sehingga untuk yang belum sempat mengikuti ‘pengajaran’ rohani, biasanya tidak mudah untuk memahaminya. Pembahasan ini merupakan pengalaman rohani, bukan sekedar pembahasan seperti di bangku kuliah dan biasanya diajarkan melalui kerohanian yang hening dan mendalam……. bertambah ‘terang’ rohani anda semakin mudah memahami bahasan ini.

One Comment leave one →
  1. 10 September, 2008 1:20 am

    Jiwa yang bersal dari Tuhan akan kembali kepadaNya . bahasan ini menarik sekali daeng😀
    saya simpan dulu deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: