Skip to content

Kemboja di bawah atap senja

21 Juli, 2010

Setangkai bunga mawar yang diberikan Roni, seakan tak cukup untuk mengobati rasa rindu Adelia.  Ia merasa telah menemukan sang pangeran impiannya, seorang pemuda tampan dan memiliki masa depan yang cerah.   Hari ini ia menghabiskan waktu bersama Roni jalan-jalan ke Mal SKA, menikmati makan siang bersama di Solaria.   Setelah makan siang mereka kembali bekerja di kantor masing-masing.  Dan sore tadi Adelia menerima kiriman bunga mawar yang diletakkan di depan pintu kostnya.

Perkenalan pertama mereka bermula dari Roni yang sering berkunjung ke kantor Adelia untuk suatu urusan bisnis.   Roni yang telah mengetahui nomor handphone Adelia sering mengirim sms, entah menanyakan kabar ataukah sekedar bertanya tentang sudah makan siang atau belum.

Sementara Roni adalah sang penebar pesona yang mematikan.  Ia ibarat kumbang yang siap menghisap sarimadu bunga-bunga yang sedang mekar.  Ia tak pernah puas menghisap sarimadu satu bunga saja, ia sadar akan pesonanya.  Dan ia pandai memasang jerat-jerat yang bisa membuat wanita lupa bahwa ia telah terhisap kedalam pesonanya.

Adelia seorang wanita yang polos, menganggap Roni bersungguh-sungguh mencintainya.  Ia adalah gambaran wanita yang polos dan dengan kepolosannya itulah yang membuat Roni tergila-gila.   Bulan-demi bulan mereka menjalani kisah kasih yang menggelorakan, selama itu pula Adelia sanggup bertahan dari godaan rayuan maut si Roni.  setahap demi setahap, keteguhan Adelia membuat Roni sadar, bahwa tak semua wanita bisa ia taklukkan.   Dan ketika jerat cinta Roni tak sanggup menaklukkan Adelia, bahkan Roni terjerat oleh jeratnya sendiri.  Ia tak bisa melupakan Adelia, ia benar-benar jatuh cinta, benar-benar kepayang, benar-benar terasa mati jika tak bersua sehari saja.

Dan cinta mereka seakan menghadapi kiamat, ketika Adelia menyampaikan bahwa ia mengidap kanker dan dokter memperkirakan usia Adelia hanya tinggal satu bulan saja.  Roni begitu panik, dunia seperti mau runtuh, ia tak konsentrasi bekerja.  Antara kecintaan dan perasaan iba bercampur baur menjadi satu, Roni akhirnya menemani hari-hari terakhir Adelia, hari-hari yang selalu mengisi memori Roni.

Dan hari ini, setahun sejak Adelia meninggalkan dunia fana, Roni bersimpuh di pusaranya, diantara daun-daun kemboja yang berguguran dan atap senja yang semburat merah, dengan suara lirih Roni mengakhiri doanya yang terakhir, “semoga kita dapat bersatu di sana Adelia”……..…Amiiin.

3 Komentar leave one →
  1. 25 Juli, 2010 2:19 pm

    cinta memang anomali yg luar biasa dari kehidupan manusia.. masih banyak roni roni yang lain di dunia ini daeng.. good story!

    • 25 Juli, 2010 6:04 pm

      cinta sebenarnya perkara sederhana, yang begitu rumit untuk diurai dalam perangkap kata-kata

  2. 31 Juli, 2010 4:19 am

    :):):):):):):):):):):):):):):):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: