Skip to content

TELEVISI

19 Februari, 2012

Sebuah televisi tua, hanya warna hitam dan putih, bendera merah putih juga hanya hitam dan putih, logo-logo partaipun warnanya hanya hitam dan putih, lambang-lambang keagamaan hanya diwakili hitam dan putih.  Sebagus apapun pakaian yang dikenakan pejabat atau artis hanya ada warna hitam dan putih.

Sebuah televisi tua hitam putih, mungkin mewakili  kehidupan yang ada di zaman itu, di zaman di mana Indonesia masih berpolitik hitam dan putih.  Hidup di zaman yang memiliki sedikit pilihan-pilihan, hanya ada penguasa dan anti penguasa, hanya ada orde baru dan orde lama, hanya tga partai, hanya ada satu siaran televisi yaitu TVRI, hanya ada ya dan tidak, hanya ada satu azas Pancasila, hanya ada satu bendera yaitu merah putih, hanya ada satu kata untuk para menteri yaitu, “atas petunjuk Bapak Presiden”.

Televisi hitam putih yang tersingkir oleh televisi color yang lebih menarik, karena begitu banyak warna.  Warna bendera tak lagi terlihat oleh penonton sekadar hitam dan putih, tetapi sudah benar-benar merah dan putih, siaran televisi tak lagi hanya TVRI, bendera pun tak hanya merah putih (ada RMS, Bintang Kejora, GAM), partai-partai tak lagi hanya ada tiga, kata-kata persetujuan tak lagi hanya Ya dan tidak tetapi kadang Ya tapi tidak, warna-warni kehidupan lebih dinamis.

Jika saat ini menonton menggunakan televisi hitam putih, sepertinya kita melihat sejarah, walaupun sebenarnya kejadiannya saat ini.   Sejarah seperti hanya ada dua warna hitam dan putih waktu itu, apa yang tertulis pada buku-buku sejarah seperti tidaklah dapat di sanggah,  sejarah mengikuti kemauan penguasa.

Sejak  televisi color memasuki rumah-rumah, orang-orang terpaku di tempatnya, semua terlihat nyata, darah, api dan kemarahan.   Jika dulu televisi hitam putih di pakai oleh pemerintah sebagai alat propaganda, maka sekarang televisi bukan lagi menyiarkan propaganda pemerintah saja, propaganda para kapitalis, dan propaganda paham-paham berbasis agama juga ikut meramaikannya.  Jika dulu api hanyalah hitam dan putih, kini ia merah membara, jika dulu kemarahan hanyalah hitam dan putih, kini ada rona merah memancar pada wajah, jika dulu darah hanyalah hitam dan putih, kini darah terlihat merah pekat.  Orang-orang merayakan dunia warna-warni, sebagai keindahan, yang bagiku semu, sebenarnya tak lebih baik dari hitam dan putih.

 

 

2 Komentar leave one →
  1. 11 Maret, 2012 11:06 am

    met siang daeng udah lama gak ngelaba ke tempat daeng, apa kabarnya??????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: